KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Nama : Miftakhul Khalisa
Nim : 12001254
Kelas : 4G/PAI
Mata kuliah : Magang 1

Karakteristik peserta didik
Dari beberapa sumber atau jurnal dan artikel yang saya baca dan pahami mengenai Karakteristik peserta didik adalah totalitas kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi mereka sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya, sehingga menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan harapan dan meraih cita-cita.
karakteristik peserta didik dimaksudkan untuk mengenali ciri-ciri dari setiap peserta didik yang nantinya akan menghasilkan berbagai data terkait siapa peserta didik dan sebagai informasi penting yang nantinya dijadikan pijakan dalam menentukan berbagai metode yang optimal guna mencapai keberhasilan kegiatan pembelajaran.
Ada beberapaa Karakteristik peserta didik meliputi: etnik, kultural, status sosial, minat, perkembangan kognitif, kemampuan awal, gaya belajar, motivasi, perkembangan emosi, perkembangan sosial, perkembangan moral dan spiritual, dan perkembangan motoric.
1. Etnik
Pendidik dalam melakukan proses pembelajaran perlu memperhatikan jenis etnik apa saja yang terdapat dalam kelasnya. Dalam sekolah dan kelas tertentu terdapat multi etnik/suku bangsa, seperti dalam satu kelas kadang-kadang terdiri dari peserta didik etnik Jawa, Sunda, Madura, Minang, dan Bali, maupun etnik lainnya.
Seorang pendidik yang menghadapi peserta didik hanya satu etnik di kelasnya, tentunya tidak sesulit yang multi etnik. Proses pembelajaran dengan peserta didik yang multi etnik maka dalam melakukan interaksi dengan peserta didik di kelas tersebut perlu menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh semua peserta didiknya. Ketika guru memberikan contoh-contoh untuk memperjelas materi yang sedang dibahas tentang contoh yang dapat kemudian dipahami oleh semuanya.
2. Budaya
Peserta didik kita sebagai anggota suatu masyarakat memiliki budaya tertentu dan sudah barang tentu menjadi pendukung budaya tersebut. Budaya yang ada di masyarakat kita beragam, seperti kesenian, kepercayaan, norma, kebiasaan, dan adat istiadat.Peserta didik yang dihadapi mungkin berasal dari berbagai daerah yang tentunya memiliki budaya yang berbeda sehingga kelas yang kita hadapi adalah kelas yang multikultural.
Pendidikan multikultural memiliki ciri-ciri:
a. Tujuan membentuk “manusia budaya” dan menciptakan manusia berbudaya (berperadaban).
b. Materinya mangajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis (kultural).
c. Metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keragaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalisme).
d. Evaluasinya ditentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi aspek persepsi, dan tindakan terhadap budaya lainnya.
3. Status sosial
Peserta didik pada suatu kelas biasanya berasal dari status sosial-ekonomi yang berbeda-beda. Peserta didik dengan berbagai status ekonomi dan sosialnya menyatu untuk saling berinteraksi dan saling melakukan proses pembelajaran. Perbedaan ini tidak menjadi penghambat dalam melakukan proses pembelajaran. Namun tidak dapat ditemukan status sosial ekonomi ini menjadi penghambat peserta didik dalam belajar kelompok. Implikasi dengan adanya variasi status-sosial ekonomi ini pendidikan mudah untuk bertindak adil dan tidak diskriminatif.
4. Minat
Minat merupakan suatu sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang dipilihnya. Sebenarnya minat belajar peserta didik memegang peran yang sangat penting, sehingga perlu untuk terus Berkembang sesuai dengan minat yang dimiliki oleh seorang peserta didik.
5. Perkembangan kognitif
Tingkat perkembangan kognitif yang dimiliki peserta didik akan mempengaruhi guru dalam memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran, metode, media, dan jenis evaluasi.
Menurut Piaget, tahap-tahap perkembangan intelektual peserta didik adalah sebagai berikut:
a. Bahwa perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap berurutan yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya setiap manusia akan mengalami urutan tersebut dan dengan urutan yang sama;
b. Tahap bahwa-tahapperkembangan didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokkan. Pembuatan hipotesis dan penarikan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual.
c. Gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan ( equilibration ), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi ) dan struktur kognitif yang timbul ( Bahwa ).
6. Kemampuan awal
Mengetahui keadaan pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu oleh peserta didik sebelum mempelajari pengetahuan atau keterampilan baru. Pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu adalah pengetahuan atau keterampilan yang lebih rendah dari apa yang akan dipelajari. Kemampuan awal peserta didik bersifat individual, artinya berbeda antara peserta didik dengan lainnya, sehingga untuk mengetahuinya juga harus bersifat individual. Cara untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dapat dilakukan melalui teknik tes yaitu pre tes atau tes awal dan teknik non tes seperti wawancara.
7. Gaya belajar
Yaitu cara yang dipilih/digunakan oleh peserta didik dalam menerima, mengatur, dan memproses informasi atau pesan dari komunikator/pemberi informasi. Gaya belajar dapat menjadi tiga yaitu visual ( pebelajar visual ), auditif (pebelajar auditori), dan kinestetik (pebelajar kinestetik). Dengan diketahuinya gaya belajar yang dimiliki pesertadidik, maka akan berimplikasi terhadap model pembelajaran, strategi, metode, dan media pembelajaran yang akan digunakan.
8. Motivasi
Suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Motivasi kadang timbul dari dalam diri individu itu sendiri ( motivasi instrinsik dan kadang motivasi itu muncul karena faktor dari luar dirinya sendiri ( motivasi ekstrinsik ).
Seseorang memiliki motivasi tinggi atau tidak dalam belajarnya dapat terlihat dari tiga hal:
a. Kualitas keterlibatannya,
b. Perasaan dan keterlibatan afektif peserta didik
c. Upaya peserta didik untuk memelihara/menjaga motivasi yang dimiliki.
9. Perkembangan emosi
Emosi sebagai tergugahnya perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, otot menegang, dan jantung berdebar. Dengan emosi peserta didik dapat merasakan senang/gembira, aman, bersemangat, bahkan sebaliknya peserta didik merasakan sedih, takut, dansejenisnya. Suasana emosi yang positif atau menyenangkan atau tidak menyenangkan membawa pengaruh pada cara kerja struktur otak manusia dan akan berpengaruh pula pada proses dan hasil belajar. Oleh karena itu pendidik dalam melakukan proses pembelajaran perlu menghadirkan suasana emosi yang senang/gembira dan tidak memberi rasa takut pada peserta didik.
10. Perkembangan sosial
Adalah kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya, bagaimana anak tersebut memahami lingkungan dan pengaruhnya dalam berperilaku baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Perkembangan sosial peserta didik dapat diketahui/dilihat dari tingkat kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain dan menjadi masyarakat di lingkungannya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sebaya yaitu keluarga, kematangan, teman, sekolah, dan status sosial ekonomi.
11. Perkembangan moral dan spiritual
Moralitas dalam diri peserta didik dapat tingkat yang paling rendah menuju ke tingkat yang lebih tinggi seiring dengan kedewasaannya.
Menurut Kohlberg perkembangan moral anak/peserta didik dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu:
a. Prakonvensional (6 – 10 th)
Meliputi aspek kepatuhan dan orientasi hukuman, orientasi anak/peserta didik masih pada konsekvensi fisik dari perbuatan yang benar-salahnya yaitu hukuman dan kepatuhan atau penilaian anak baik – berdasarkan akibat perbuatan; Dan aspek naif orientasi egoistik ; orientasi anak/peserta didik pada instrumen relatif.
b. Konvensional (10 – 17 th)
Meliputi aspek good boy orientation , orientasi perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau disepakati oleh orang lain.
c. Pascakonvensional (17 – 28)
Tahap pasca konvensional ini meliputi orientasi legalistik kontraktual , orientasi orang pada legalitas kontrak sosial.
12. Perkembangan motorik.
Menurut Hurlock Perkembangan motorik adalah perkembangan gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkordinasi.
Perkembangan motorik merupakan proses yang sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan terus-menerus, Dimana gerakan meningkat dari keadaan sederhana, tidak terorganisir, dan tidak terampil, menguasai keterampilan yang kompleks dan terorganisir dengan baik.
Perkembangan motorik dikelompokkkan menjadi motorik kasar dan motorik halus.
a. Motorik kasar ; gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot atau besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh sebagian besar anak itu sendiri.
b. Sedangkan motorik halus : gerakan yang menggunakan otot halus, atau sebagian anggota tubuh tertentu yang ditentukan oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih.
Ada bebepara tips Mengetahui Karakteristik Setiap Siswa di Kelas
1. Amati siswa selama proses belajar mengajar
Hal yang paling utama ketika seseorang ingin mengetahui karakteristik orang lain yaitu berasal dari cara mereka berkomunikasi, baik verbal maupun non-verbal. Hal ini juga berlaku bagi guru yang ingin mengetahui karakteristik siswanya. Sebagai petunjuk awal, guru dapat memerhatikan bagaimana siswa berinteraksi dengan teman-temannya saat di kelas. Selanjutnya, pola interaksi yang sama bisa saja terulang pada saat siswa harus bekerja dan mengerjakan tugas bersama teman secara berkelompok.
Selain memerhatikan pola komunikasi siswa dengan teman-temannya di kelas, guru perlu memerhatikan bagaimana siswa berkomunikasi dengan guru selama menyampaikan materi pelajaran di kelas – apakah siswa tersebut gemar mengajukan pertanyaan, aktif dalam diskusi, serta sejauh mana tingkat kemampuannya dalam mengerjakan tugas.
Ekspresi wajah siswa juga dapat memberikan tanda kepada guru terkait pemahaman mereka akan sebuah bidang ilmu. Selain itu, karakteristik siswa dapat diamati dari perilakunya selama di kelas, apakah siswa tergolong sebagai orang yang tenang atau mengganggu kelas.
2. Kenali jenis temperamen siswa
Pada dasarnya, temperamen siswa memengaruhi cara mereka untuk memahami materi pelajaran dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Tak hanya itu, cara mereka untuk bereksplorasi dalam mencari bahan ilmu untuk mengerjakan tugasnya juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik mereka.
Seperti yang telah kita ketahui, karakteristik siswa sangat beraneka ragam. Ada siswa yang antusias dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada pula siswa yang sangat berhati-hati saat beradaptasi dengan lingkungan baru di awal waktu lalu menjadi santai setelahnya. Ada juga siswa yang lambat beradaptasi sehingga jarang mengemukakan emosi mereka.
3. Cobalah masuk ke dunia siswa
Memasuki dunia siswa merupakan salah satu cara paling mudah untuk memahami karakter mereka. Guru dapat mencoba untuk bergabung bersama siswa ketika mereka sedang bermain atau melakukan aktivitas lain di sekolah. Dengan demikian, guru akan lebih memahami minat dan bakat dari masing-masing siswa.
Ketika guru mencoba untuk masuk ke dalam dunia siswa, di sana akan terjadi interaksi sosial antara guru dan siswa. Hal tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai karakteristik masing-masing siswa yang bisa dihimpun guru. Dengan mencoba untuk dekat dengan siswa, guru dapat mengatasi permasalahan rasa sungkan dan malu yang biasanya ditunjukkan siswa ketika guru meminta mereka untuk menunjukkan bakat atau menyampaikan pendapat saat pelajaran di kelas.
4. Lakukan pendekatan psikologis
Banyak metode yang dapat diterapkan oleh guru ketika ingin melakukan pendekatan psikologis pada siswa. Beberapa di antaranya yaitu mewawancarai, menanyakan hal-hal yang penting dan dekat dengan siswa, atau mendiskusikan sesuatu yang menarik minat siswa. Guru juga bisa memberikan solusi terkait hal-hal yang menjadi masalah di sekolah bagi siswa. Dari cara-cara tersebut, guru dapat menggali informasi lebih dalam tentang karakteristik siswa yang diampunya.
5. Jadilah sahabat siswa
Sahabat merupakan seseorang yang sangat penting dalam hidup kita. Kepada sahabat, kita tidak akan merasa segan atau malu ketika menceritakan hal-hal yang paling sensitif tentang diri kita. Ketika kamu sudah dianggap sebagai sahabat seseorang, itu artinya kamu sudah dipercaya sepenuhnya oleh dirinya. Jika guru mampu menjadi sahabat siswa, maka guru sudah sepenuhnya dipercaya oleh siswa.
Guru dapat mencoba untuk melakukan pendekatan secara emosional kepada siswa jika ingin menjadi sahabat mereka. Kedekatan emosional ini dapat membantu guru untuk memahami karakteristik mereka. Dengan kedekatan emosional, siswa tidak ragu untuk menyampaikan masalah atau pendapatnya tentang suatu hal kepada guru.
Selain itu, pendekatan emosional mampu membuat guru untuk mengetahui sisi lain dari siswa yang selama ini ia ajar. Terkadang, apa yang guru lihat di kelas itu belum cukup untuk menggambarkan karakteristik siswa. Oleh karena itu, guru perlu berinisiatif untuk lebih dekat dan menjadi sahabat bagi siswa agar guru mampu mengenali karakter dan perilaku dari siswanya.
6. Memahami lingkungan di sekitar siswa
Seperti yang sudah disebutkan pada paragraf awal bahwa lingkungan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terbentuknya karakteristik seseorang. Begitu pula dengan siswa yang guru ajar. Lingkungan dan pengalaman yang ia miliki sebelumnya sangat berpengaruh terhadap karakternya.
Sebagai contoh, ada siswa yang tidak mampu untuk fokus dan berkonsentrasi menerima materi pelajaran selama kelas berlangsung. Setelah diselidiki, ternyata siswa ini adalah anak broken home yang mengalami kekerasan di rumah. Hal ini tentu tidak akan guru ketahui ketika guru hanya memerhatikan mereka dari ruang kelas saja. Oleh karena itu, guru perlu untuk memahami lingkungan sekitar siswa.
7. Diskusikan dengan orang tua siswa
Jika cara-cara yang telah dijabarkan sebelumnya tidak juga berhasil dilakukan guru karena siswa merupakan pribadi yang tertutup, guru dapat mencoba untuk mendiskusikannya dengan orang tua mereka. Orang tua adalah sosok yang paling dekat dengan siswa ketika di rumah. Guru dapat menghubungi atau bertemu langsung dengan orang tua dan menanyakan kebiasaan siswa selama di rumah untuk mengetahui karakteristik mereka.
KURANG DAN LEBIHNYA MOHON MAAF
SEKIAN DAN TERIMA MAKASIH

Komentar